Menjelaskan Informasi Tokutei Ginou di Semarang (22 April 2019)

Pada tanggal 22 April 2019, saya punya kesempatan untuk menjelaskan tentang status penduduk baru ‘Tokutei Ginou (ketrampilan spesifik)’ di Jepang kepada ex kenshusei / pemagang di Semarang.

Meskipun status tersebut dimulai di bawah UU Imigrasi yang direvisi di Jepang, perusahaan Jepang yang mau menerima pekerja Tokutei Ginou dan Touroku Shien Kikan (Agen dukungan terdaftar) sekarang masih dalam pemeriksaan sampai Juni nanti oleh Biro Pelayanan Imigrasi sebelum mereka boleh mulai aktivitasnya. Selain itu, Tokutei Ginou tidak bisa mulai sebelum menandatangani MoU antara Pemerintah Indonesia dan Jepang.

Ada banyak informasi yang salah tentang Tokutei Ginou terlihat di Indonesia dan ada yang tertipu juga. Saya berharap ex Kenshusei/pemagang sabar menunggu sampai pemulaiannya sambil mempersiapkan informasi yang diperlukannya.

Matsui Glocal LLC sedang siap menjadi Touroku Shien Kikan

Dear rekan-rekan di Indonesia,

Kami, Matsui Glocal LLC, sedang melakukan permohonan izin registrasi sebagai Instansi Pendukung Terdaftar (Touroku Shien Kikan) ke Biro Pelayanan Imigrasi Sendai di Jepang sebagai persiapan membantu status baru keterampilan spesifik (Tokutei Ginou). Semoga izin registrasi diharapkan akan keluar bulan Juni atau Juli nanti.

Dalam hal ini, kami mau membagi informasi benar tentang Tokutei Ginou dan Touroku Shien Kikan bersama rekan-rekan di Indonesia.

Kami akan berada di Indonesia dari tanggal 19 April sampai tanggal 3 Mei. Akan berada di Jakarta pada tanggal 19-23 April, dan di Malang pada tanggal 28 April s/d 2 Mei (untuk memberi kuliah di Universitas Brawijaya).

Sementara kami belum ada agenda khusus pada sekitar 23-28 April dan rencananya mau ke Semarang.

Jika ada yang mau ketemu saya, mohon kontak langsung kepada saya dengan email (matsui@matsui-glocal.com), direct message FB, atau WA (08114106670), dengan sebutkan nama dan posisi kerja.

———-

Sebagai info singkat, sampai saat ini Tokutei Ginou belum bisa dilakukan karena belum ada MoU antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Jepang. MoU tersebut akan ditetapkan dalam tahun 2019 ini.

Tokutei Ginou sementara diperbolehkan hanya 14 jenis industri: konstruksi, perkapalan, bengkel mobil, penerbangan, perhotelan, perawatan, building cleaning, pertanian, perikanan, industri makanan dan minuman, restoran, industri bahan baku, industri mesin, dan industri listrik/elektronik/informasi. Dalam 14 jenis industri, jenis kerjanya juga ditentukan masing-masing.

Ada dua persyaratan pekerja Tokutei Ginou. (1) harus lulus tes keterampilan jenis kerja masing-masing di 14 jenis indutsri dan harus lulus tes bahasa Jepang (setingkat N4), atau (2) ex-Kenshusei yang pernah menjadi Ginou-jisshu 2-gou dan selesai selama tiga tahun dengan baik. Ex-Kenshusei ini dapat langsung diterima oleh perusahaan Jepang tanpa tes, namun jenis kerjanya harus sama dengan yang dulu.

Pekerja Tokutei Ginou langsung kontrak dengan perusahaan Jepang tanpa lewat LPK dan kumiai. Touroku Shien Kikan akan membantu proses ini dan membantu pekerjanya selama di Jepang.

Pekerja Tokutei Ginou dianggap pekerja dan bisa berada di Jepang max selama lima tahun sebagai Tokutei Ginou 1-gou. Namun tidak boleh membawa keluarganya.

Demikian informasi tentang Tokutei Ginou yang singkat. Jika mau inf lebih rinci, mohon kontak sama kami.

Sambutan dari Matsui Glocal LLC untuk masuk tahun ke-3

Kami Matsui Glocal LLC telah masuk tahun ke-3 sejak berdirinya pada tanggal 11 April 2017. Kami bersyukur atas dukungan dan kerjasama Bapak/Ibu selama ini.

Kami akan terus melanjutkan tahun ke-3 ini dengan tujuan menciptakan nilai baru dengan bersambung antara lokal dan lokal.

Dunia tidak diubah oleh orang tertentu. Dunia berubah sebagai hasil dari setumpuk kegiatan sehari-hari lokla oleh masing-masing dari kita. Basis ini berada di lokal, dan penciptaan nilai baru di lokal tersambung dengan masa depan kita.

Berdasar dari pemikiran ini, kami berpikir dari lokal dulu, menghubungkan orang-orang lokal, dan membantu menciptakan nilai-nilai lokal baru dengan rasa memilikinya sendiri, tanpa batas negara dan administrasi. Kami akan mengejar globalisasi jaringan lokal-to-lokal.

Dari tahun ke-3 ini, kami mulai berjuang dua tantangan. Yaitu, bagaimana lokal memanfaatkan SDM eksternal termasuk pemagang/pekerja asing untuk menciptakan dan meningkatkan nilai lokal sendiri, dan bagaimana pengembangan SDM eksternal bisa beruntung secara win-win untuk lokal pengirim SDM dan lokal penerima SDM dua-duanya.

Sambil mewacanakan 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun kemudian, kami berjuang untuk lokal-lokal dimana-mana di dunia. Terlebih dahulu kami ucapkan terima kasih banyak atas dukungan, nasihat dan kerjasama Bapak/Ibu.

Pembicara dalam Seminar tentang Pemanfaatan Tenaga Kerja Asing di Jepang (26 Maret 2019)

Saya diundang sebagai pembicara untuk Seminar tentang Pemanfaatan Tenaga Kerja Asing di Jepang, diselenggarakan oleh Federasi Ekonomi Hokuriku dan JETRO, di Kanazawa, pada tanggal 26 Maret 2019.

Saya mengambil beberapa topik termasuk peran UMKM lokal di ekonomi daerah, pemisahan antara tujuan dan situasi nyata dalam program pemagangan teknis, dan status penduduk asing baru “keterampilan spesifik” yang akan berlaku sejak April 2019.

Saya mencoba menyarankan dua cara termasuk kombinasi antara tenaga kerja tingkat tinggi dan pemagang atau pekerja asing “keterampilan spesifik”, dan (2) menciptakan jalur untuk pemagang / pekerja asing naik kelas sebagai tenaga kerja tingkat tinggi dengan mendapatkan kesempatan belajar di universitas.

Mengunjungi Universitas Muhammadiyah Malang (14 Maret 2019)

Setelah mengunjungi Universitas Brawijaya, saya mengunjungi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk membahas tentang peluang kerjasama dengan Jepang. Diskusi ini dilakukan sebagai mini seminar diketuai oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Kami memiliki diskusi yang sangat menarik dan mengesankan dalam kesempatan ini dan UMM terus mempertimbangkan aktivitas kerjasama termasuk tur studi ke Jepang dan mengundang saya sebagai dosen tamu.

Mengunjungi Universitas Brawijaya, Malang (14 Maret 2019)

Saya mengunjungi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Brawijaya (UB), Malang, pada tanggal 14 Maret 2019.

FEB UB melakukan 3 in 1 program dalam kursus akademis oleh tiga jenis dosen dari Universitas Brawijaya, sektor swasta, dan pihak internasional.

Saya ditawari untuk menjadi dosen tamu asing di dalam 3 in 1 program oleh FEB UB. Mungkin di bulan April depan.

Saya menghargai penawaran ini dan menyarankan tiga mata kuliah sebagai topik saya; kebijakan pengembangan ekonomi lokal termasuk gerakan OVOP, isu ekonomi dan sosial saat ini di Jepang, dan studi lapangan dengan metode fasilitasi pengembangan masyarakat.

Saya berharap akan membuat beberapa kontribusi yang berarti untuk mahasiswa-mahasiswi perguruan tinggi di Indonesia dalam kesempatan ini.

Pertemuan dengan Pengurus IKAPEKSI (12 Maret 2019)

Setelah selesai rapat di Cirebon, saya bertemu beberapa anggota pengurus IKAPEKSI di Bekasi pada tanggal 12 Maret 2019. IKAPEKSI adalah Ikatan Alumni Pengusaha Kenshusei Indonesia.

Saya adalah penasihat IKAPEKSI sejak tahun 2014.

Kami membahas tentang situasi organisasi saat ini dan status domisili baru Jepang “tokutei ginou (keterampilan spesifik)”. Mereka sangat serius mendukung mantan kenshusei untuk membuat kontribusi pada pembangunan lokal di Indonesia.

Kunjungan ke STIKes Cirebon (12 Maret 2019)

Saya mengunjungi STI Kesehatan Cirebon (STIKes Cirebon) pada tanggal 12 Maret 2019 untuk membahas tentang pendidikan perawat dan kapasitas mengirim perawat ke Jepang sampai sekarang.

STIKes Cirebon ini adalah lembaga pertama yang mengikuti program EPA pada tahun 2008 untuk mengirim perawat ke Jepang.

Kita bertukar informasi tentang pengembangan SDM perawatan dan program masa depan untuk mengirimkan perawat ke Jepang.

Kunjungan ke Cimahi (9 Maret 2019)

Saya mengunjungi Cimahi, Jawa Barat, untuk bertemu dosen IKIP Siliwangi. Mereka ingin memiliki koneksi dengan perguruan tinggi di Jepang untuk mewujudkan program study tour dan kerjasama internasional. IKIP Siliwangi ingin memperdalam studi tentang pendidikan non-formal dan pendidikan masyarakat.

Saya menghargai IKIP Siliwangi untuk mengembangkan kapasitas pendidikan dengan terhubung dunia luar termasuk Jepang, meski IKIP itu skala kecil dan tidak terkenal, serta tanpa koneksi apa pun dengan Jepang sampai sekarang.

1 2 3 4 12