Untuk Bekerja di Indonesia, TKA Harus S-1?

Dalam kalangan pengusaha Jepang di Indonesia, salah satu masalah besar saat ini adalah masalah visa kerja untuk orang asing. Menurutnya, latar belakang pendidikan orang asing harus di atas S-1 jika mau dapat visa kerja di Indonesia.

Apakah ini sudah ditentukan secara resmi oleh pemerintah lewat suatu peraturan? Atau aturan intern di dalam Kementerian Tenaga Kerja?

Saya belum menemu peraturan resmi yang tertulis tentang hal ini. Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 tentang Tata Cara Penggunaan Tenaga Kerja Asing, ada persyaratan Tenaga Kerja Asing (TKA) di pasal 26. Dalam (1), sebut bahwa TKA yang dipekerjakan oleh pemberi kerja wajib memunuhi persyaratan sebagai berikut: a. memiliki pendidikan yang sesuai dengan syarat jabatan yang akan diduduki oleh TKA; b. memiliki kompetensi yang dibuktikan sertifikat kompetensi atau pengalaman kerja sesuai dengan jabatan yang akan diduduki oleh TKA paling kurang 5 (lima) tahun; c. bersedia membuat pernyataan untuk mengalihkan keahliannya kepada tenaga kerja Indonesia pendamping; dan d. dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.

Dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi ini, belum terlihat persyaratan yang harus diatas S-1.

Mengapa ini dianggap masalah di dalam kalangan pengusaha Jepang? Karena pihak Jepang tidak bisa memanfaatkan teknisi orang Jepang lulusan SMA/SMK sebagai pembimbing terhadap tenaga kerja Indonesia, jika harus diatas S-1.

Di Jepang, umumnya, teknisi andalan di suatu perusahaan berasal dari SMA/SMK dan merekalah yang berperan untuk meningkatkan teknologinya dari lapangan. Gerakan Kaizen (perbaikan secara berkelanjutan) umumnya diperankan oleh mereka. Mengapa? Karena mereka yang paling paham kondisi dan masalah teknis sehari-hari di pabrik.

Sedangkan, di Jepang, lulusan S-1 umumnya bekerja sebagai “white-color”, kerja kantor. Lulusan S-1 percaya para teknisi yang menguasai urusan teknis dan pemecahan masalah. Para teknisi lulusan SMA/SMK disebut “blue-color” di Jepang. HUbungan saling percaya antara “white-color” dan “blue-color” inilah yang salah satu kiat pengembangan usaha terutama industri pengolahan di Jepang selama ini.

Dengan demikian, di perusahaan Jepang, “white-color” sulit memberi bimbingan teknis kepada worker. Harus dibimbing oleh teknisi berasal “blue-color”.

Selain ini, di Jepang, ada banyak mantan teknisi yang sudah pensiun ingin sekali berkontribusi untuk pengembangan industri di Indonesia. Sebagian besar mereka pernah bekerja di Indonesia dan tidak sedikitnya sangat mencintai Indonesia. Mereka tidak bermaksud mengambil kesempatan kerja dari orang Indonesia, melainkan membantu meninngkatkan SDM teknisi orang Indonesia.

Mereka tidak perlu mencari uang besar-besaran karena sudah menerima pensiun setiap bulan. Keinginan mereka bukan cari uang. Benar-benar murni mereka ingin membimbing kepada tenaga kerja Indonesia untuk meningkatkan teknik dan teknologi Indonesia di pabrik. Menurut suatu perusahaan HRD, ada daftar mantan teknisi sekitar ratusan orang yang siap datang ke Indonesia untuk pengembangan industri Indonesia.

Sayang, sebagian besar mereka adalah lulusan SMA/SNK, bukan lulusan S-1.

Dimana ada orang asing selain Jepang yang ingin bekerja bukan untuk negara aslinya sendiri tetapi untuk Indonesia? Mereka adalah seperti pelajurit bekas tentara Jepang yang tidak pulang ke Jepang dan berjuang bersama orang Indonesia untuk mengalahkan tentara Sekutu yang ingin menguasai Indonesia lagi pada waktu perang kemerdekaan pada tahun 1945-1949.

Kemajuan Indonesia adalah faktor penting untuk Jepang juga. Perusahaan sepeda motor dan otomotif Jepang sudah menentukan Indoensia sebagai basis produksi dan ekspor produknya di dunia dan tidak lari ke luar Indonesia. Lewat pengembangan industri tersebut, Jepang secara langsung atau tidak langsung membutuhkan berkontribusi untuk industrialisasi Indonesia yang mantap dan kuat.

Ada yang ingin berkontribusi untuk Indonesia tanpa mengambil kesempatan kerja dan tanpa mencari uang. namun, mereka tidak boleh memberi bimbingan teknis kepada tenaga kerja Indonesia karena bukan diatas S-1. Jika ini benar, apakah ini keputusan terbaik untuk pengembangan SDM teknisi industri di Indonesia?

Pemerintahan Jokowi memiliki pemikiran praktis, saya percaya. Semoga pemerintah Indonesia berpikir secara praktis dan bersedia memanfaatkan teknisi-teknisi orang Jepang sebagai pembimbing untuk mencetak SDM yang andal di bidang perindustrian.

Saya mengharapkan tanggapan dan opini pembaca. Terima kasih.

 

Makassar SEA Screen Academy 2014

Rumata’ Artspace akan menyelenggarakan acara Makassar SEA Screen Academy 2014 di Makassar pada tanggal 22-26 Oktober 2014.

Acara ini khususnya untuk mengembangkan dunia perfilman di Kawasan Timur Indonesia terutama berdasar dari kearifan lokal dan fakta-fakta yang berada di dunia nyata. Panitia mengharapkan kehadiran banyak pemuda yang mencintai pembuatan dan penikmatan film.

Selengkapnya lihat di situs yang berikut.

Makassar SEA Screen Academy 2014

 

Perkenalan Situs Baru

Sejak tanggal 18 Oktober 2014, saya mulai pakai situs baru dengan domain saya sendiri.

Lewat situs ini, saya menyampaikan info kegiatan dan aktivitas saya, pendapat saya, dan catatan perjalanan dan makanan kepada teman-teman.

Selain itu, agenda saya juga disampaikan karena sering pergi ke mana=mana.

Situs dan blog lama dengan bahasa Jepang dan non-Jepang akan dipadukan di dalam situs baru ini.

Demikian saya sampaikan. Semoga situs ini dapat dimanfaatkan dan memberikan rasa kebahagiaan kepada teman-teman. Terima kasih atas dukungannya.

 

New Email Address

Bersama ini saya memberitahukan bahwa saya habis kontrak dengan JAC Business Center sebagai Senior Associate pada tanggal 3 September 2014.

Saat ini saya menjadi benar-benar konsultan, fasilitator, dan katalist independen.

Rencananya, saya akan membentuk suatu perusahaan konsultan kecil di Jepang dan berlanjut kegiatan di Indonesia, Jepang dan tempat lainnya.

Dengan demikian, saya mulai pakai alamat email saya yang baru, seperti yang berikut:

matsui@matsui-glocal.com

Saya pakai nama “Matsui Glocal” di dalam kegiatan saya. Nanti nama ini akan digunakan untuk perusahaan konsultan kecil saya.

Saya mengharapkan teman-teman tetap terus kontak dan berhubungan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan bernilai bersama-sama buat generasi penerus kita.

Inikah hasil demokratisasi Indonesia?

Mohon maaf jika ada yang merasa tersinggung. Ini sekedar ngomongan orang asing yang belum hafal betul tentang Indonesia.

Apakah ada input baru yang sangat bagus dari pihak Prabowo-Hatta yang menaikkan dukungannya secara signifikan?

Sebaliknya, apakah ada kesalahan fatal yang menurunkan dukungan terhadap Jokowi-JK di dalam kampanye Pilpres kali ini?

Sayang sekali, belum terlihat pembahasan serius tentang masalah-masalah dan kebijakan krusial yang dihadapi oleh Indonesia saat ini dan masa depan. Kayaknya jauh lebih sibuk melakukan kompetisi manupilasi informasi dan menjatuhkan citra orang satu sama lain. Banyak orang bergerak hanya berdasar rasa sakit hati.

Inikah hasil demokratisasi Indonesia? Mohon lebih serius berpikir dan beraksi untuk masa depan yang baik untuk anak dan cucu anda masyarakat Indonesia.

Merasa banggakah jika menang dengan kampanye hitam?

Banyak pihak merasa bosan dan benci terhadap kampanye hitam dan negatif yang sedang ramai di dalam Pilpres kali ini.

Seolah-olah orang Indonesia sangat senang menjelekkan orang dan mencari kesalahan orang, daripada membahas masa depan Indonesia dan memikirkan ide-ide baru yang akan terwujud untuk zaman anak dan cucu kita. Sayang sekali !

Pernah saya bertanya lewat Twitter. Apakah pemenangnya merasa bangga jika menang karena kampanye hitam dan negatif?

Mengapa saya bertanya? Karena ada yang mengatakan bahwa harus menang dengan cara apa pun. Ini karena harus ada pengembaliannya terhadap banyak investasi dana yang telah ditanam untuk Pilpres.

Saya sering dengar bahwa ajaran agama di Indonesia sangat penting. Apakah ajaran agama memperbolehkan kemenangan dengan cara-cara yang kotor dan yang melukai pihak lain?

Jika ini dibenarkan karena penting untuk mengembalikan dana investasi politik, mereka berdoa apa untuk Tuhan setiap kali? Hanya untuk dirinya sendiri saja?

Saya merasa sedih melihat situasi seperti ini. Dalam kampanye Pilpres kali ini, sulit dengar pikiran dan ide untuk memperbaiki berbagai keadaan saat ini untuk Indonesia masa depan yang lebih baik. Tidak dengar diskusi positif untuk menagatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh Indonesia ini.

Yang adanya saling menjelekkan dan mencari kesalahan saja.

Selainnya, hanya kompetisi imej calon presiden dan wakil presiden saja. Sama sekali tidak produktif. Arahan visi dan misi kedua kubu sebenarnya tidak jauh berbeda, meskipun pendekatan dan caranya sangat berbeda.

Masih terlihat intimidasi dan pemaksaan pemilihan calon tertentu oleh atasan atau tokoh masyarakat. Seolah-olah jika tidak ikut intimidasi dan pemaksaan tersebut, dia akan dapat sanksi atau dieportasi dari komunitasnya. Apakah Indonesia sudah menjadi negara demokratis atau tidak?

Atasan atau tokoh masyarakat tersebut tidak mau membeli kesempatan kepada bawahannya untuk berpikir sendiri. Hanya maunya loyalitas saja. Ini namanya dictatorship atau authoritarianism. Masih ada kubu calon presiden dan wakil presiden yang memakai cara-cara ini untuk memaksakan pemilihannya.

Negara demokratis tidak mungkin terwujud tanpa masyarakat yang mampu berpikir sendiri dengan pertanggungjwabnya sendiri. Namun, elit politik dan kalangan atas belum siap menghadapi masyarakat yang berpikir sendiri. Masih mengharapkan masyarakat yang jujur (artinya hanya ikut atasan).

Kapan Indonesia menjadi negara demokratis yang benar?

Sekali lagi saya bertanya. Apakah pemenangnya merasa bangga jika menang karena kampanye hitam dan negatif? Karena menjelekkan pihak lain dengan fitnah dan kebohongan?

Jika jawabannya ya, kesedihan saya tidak akan mungkin hilang dari hati saya. Dan saya benci sama saya sendiri karena belum bisa benci terhadap Indonesia yang demikian.

Keputusan Keberatan Operasi Kembali PLTN di Jepang

Pada tanggal 21 Mei 2014, Pengadilan Daerah Fukui, Jepang menyatakan keberatan terhadap operasi kembali Pembangkitan Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Oh-i No. 3 dan No. 4. Barusan ringkasan keputusan ini diterjemahkan oleh Bahasa Inggris.

Dalam dokumen ini, ada kalimat yang perlu diperhatikan, seperti yang dibawah ini:

“… Furthermore, the Defendant claims that the operation of the nuclear power plant is excellent from an environmental perspective because of the contribution to reducing CO2 emissions. However, the environmental contamination incurred if one serious accident occurs at a nuclear power plant would be horrific and it would be seriously ill-founded to use environmental concerns as the basis for continuing operation of a nuclear power plant, in light of the largest ever pollution and environmental contamination in the history of our country having been caused by the Fukushima nuclear power plant accident.”

Sampai saat ini, semua PLTN di Jepang masih berhenti operasinya dan ekonomi Jepang tetap berjalan meskipun biaya energinya lebih mahal.

Manusia adalah pelupa. Banyak yang lupa apa yang terjadi di PLTN Fukushima No.1 dan No. 2 pada waktu terjadi bencana, tanggal 11 Maret 2011 dan sesudahnya. TIdak bisa lupa perasaan saya waktu PLTN tersebut meledak. Saya merasa Jepang sudah habis dan kiamat. Syukur, kita masih hidup dan berkarya.

Sekitar 150 ribu orang masih mengungsi dari kampung halamannya dan bekas PLTN masih terus mencemar air tanah dan lahan sekitarnya meskipun banyak pihak berusaha untuk menangani ini.

Ringkasan keputusan Pengadilan Daerah Fukui dapat di-download dari situs yang berikut.

Outline of Judgment on Claim for Injunction on
Operation of No. 3 and No. 4 Units at Oh-i Nuclear Power Plant
Fukui District Court, May 21 2014
http://www.greenpeace.de/sites/www.greenpeace.de/files/publications/fukui-akw-urteil-engl-juni2014.pdf

 

Pesta Tokyo di Blok M dihentikan karena pungli

Akhir bulan Mei lalu, sekitar 200.000 orang kumpul dan menikmati suasana Jepang di Blok M, Jakarta Selatan. ‘Little Tokyo Ennichisai Blok M’ terlihat sangat ramai dan penuh kesenangan oleh pengunjung.

Namun, ‘Little Tokyo Ennichisai Blok M’ ini diputuskan terakhir dengan kali ini dan tidak ada lagi. Alasannya: uang pelicin besar yang diminta oleh aparat.

Saya kira reformasi aparatur di DKI Jakarta sedang berjalan dan percaya makin membaik pada saat ini. Ternyata, masalah klasik “pungli” yang pasti tidak enak bagi pihak Indonesia masih hidup. Sangat kaget.

Acara ‘Little Tokyo Ennichisai Blok M’ Dihentikan dan Tidak Akan Ada Lagi

Apakah pernyataan ini oleh panitia pesta Ennichisai ini berlebihan? Apakah mereka bohong? Apakah dianggap orang asing menjelekkan Indonesia dengan ini? Jika dirasakan demikian dan ini bukan fakta, saya mohon maaf sebesar-besarnya.

Pesta ini dikembangkan oleh para sukarelawan tanpa dana dari pemerintah baik Indonesia maupun Jepang hanya untuk mengembangkan hubungan persahabatan antara Indonesia dan Jepang. Hanya itu saja. Bukan untuk menguasai Indonesia oleh Jepang, atau mencari keuntungan sebesar mungkin dari pihak Indonesia oleh pihak Jepang. Iya, tujuannya murni persahabatan.

Namun, upaya peningkatkan persahabatan antara Indonesia dan Jepang dihentikan karena pungli oleh aparat. Saya sangat mengharapkan ini bukan karena pihak aparat Indonesia tidak mau bersahabat dengan pihak Jepang.

Berita sedih. Apakah kami orang asing harus tetap diam jika mengalami hal-hal yang tidak wajar seperti ini karena orang asing yang diperbolehkan berdomisili di Indonesia?  Siapa yang senang menganggu upaya persahabatan antara Indonesia dan Jepang?

Kami tidak mau diam lagi.

Hebat dan Biasa

Kampanye Pemilihan Presiden RI mulai pada tanggal 4 Juni 2014. Dua pasangan calon presiden dan wakil presiden akan bertanding untuk menuju kursi RI-1.

Visi dan misi kedua pasangan umumnya tidak jauh berbeda. Dari segi kacamata orang asing, itu sudah terasa aman. Artinya, Indonesia tidak mungkin berubah arahan kebijakan dan strategi pembangunan yang jauh berbeda daripada apa yang sedang dilakukan oleh Presiden SBY.

Maka, tentu saja perdebatan tentang suatu kebijakan antara kedua pasangan tidak muncul. Satu yang mengangkat suatu issu kemiskinan, yang lain juga ikut. Seperti pemilihan presiden sebelumnya, syukur atau tidak, belum terlihat perbedaan pendapat yang jelas tentang kebijakan pembangunan antara kedua pihak.

Dengan demikian, seperti pemilihan presiden yang lalu, rakyat memilih Presiden dengan suatu feeling, imej dan perasaannya. Ini sudah ditangkapi oleh kedua pasangan dengan imaj yang sangat berbeda.

Pasangan Prabowo-Hatta berusaha memperlihatkan imeji kepemimpinan yang hebat dan kuat terhadap rakyat. Sambil memanfaatkan pemimpin yang bersejarah atau tempat bersejarah, mereka menyampaikan kepemimpinan Indonesia adalah seperti Bung Karno, dan Pak Harto. Pemimpin hebatlah yang dapat melindungi dan memelihara rakyat secara saksama.

Sedangkan, pasangan Jokowi-Kalla berusaha memperlihatkan imeji orang biasa yang sederhana dan merakyat. Sambil memanfaatkan pergaulan rakyat kecil dan pakaian/kendaraan sederhana, mereka menyampaikan kepemimpinan Indonesia bukan lagi orang khusus tetapi orang biasa yang merasakan dan memahami betul tentang rakyat. Bukan pemimpin yang mengatur, tetapi rakyat juga harus menyadari peranan masing-masing. Ini imeji yang mereka sampaikan.

Di sini terinspirasi dua kata. Hebat dan Biasa. Pemilihan Presiden kali ini adalah pemilihan kepemimpinan hebat atau kepemimpinan biasa. Dengan kata lain, buat Republik Indonesia yang telah demokratisasi, gaya kepemimpinan mana yang sesuai dengan zaman ini, yang hebat atau yang biasa?

Ada pertanyaan. Apakah Presiden merupakan penguasa atau pekerja?

Umumnya politisi berusaha mendapat kekuasaan. Kekuasaan berdasar dari kehebatan sebagai bos kelompok orang politik. Dengan kekuasaan ini, RI-1 seolah-olah bisa melakukan apa saja. Maka banyak politisi ingin menjadi RI-1. Atau, banyak politisi ingin menempel pada politisi calon presiden yang kuat untuk mendapat suatu imbalan terhadap dukungannya. Ketidategasan beberapa Parpol dalam penentuan dukungan terhadap calon presiden dapat terbaca dalam konteks tersebut.

Sedangkan, Presiden harus bekerja untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh rakyat. Ini sama juga dengan kepala daerah atau kepala desa, hanya berbeda luas wilayahnya. Kalau Presiden bekerja, ini memaksakan bawahannya juga harus bekerja. Tidak bisa lagi hanya menunggu laporan dari bawah. Presiden yang bekerja tidak ada waktu untuk memperkaya diri karena kerja terus. Bawahannya juga tidak sempat untuk memperkaya diri karena kerja terus. Kadang-kadang orang top yang bekerja keras tidak disenangi oleh bawahannya.

Pemilihan Presiden kali ini tidak menimbulkan perbedaan yang tajam di dalam visi dan misi, atau arahan kebijakan pembangunan. Namun, sangat berbeda tentang gaya kepemimpinan yang mempengaruhi cara kerja bawahannya. Politisi elit sangat kuatir jika orang yang tidak memahami tata cara dan budaya perlilaku mereka menjadi atasan. Mungkin sebagian elit politik dan kalangan terhormat sudah ketahuan ancaman ini. Untuk melindungi budaya elit mereka, mereka berusaha menjatuhkan orang biasa dengan berbagai caranya.

Kalangan terhormat ini bukan hanya elit politik, tetapi juga bintang film/TV yang selalu dilindungi oleh politisi, pejabat dan pengawai pemerintah, tokoh masyarakat yang menganggap dihormati oleh rakyat. Orang-orang hebat mulai takut ditekankan oleh orang-orang biasa.

Bila Jokowi-Kalla menang, ini bukan kemenangan Parpol yang mendukung Jokowi-Kalla. Mereka elit politik juga akan menghadapi ancaman yang sama. Apakah elit politik dapat berubah diri atau tidak?

Ini adalah suatu fenomena yang sangat menarik dalam proses pengembangan ekonomi sosial Indonesia. Dari hebat ke biasa, dari raja ke manajer, dari peguasa ke pekerja.

Meskipun Prabowo-Hatta menang, arus besar ini sulit berhenti kecuali penguasa memakai kekuasaannya secara penuh untuk melindungi budaya elit politik yang tradisional.

Sangat menarik Indonesia yang sedang berubah.

Soto Kudus yang Asli

Sebelum makan Soto Kudus yang asli di Kudus, saya tidak bisa meninggalkan Kudus, maka sopir saya antar saya ke pintu masuk suatu pasar. Ini pintu masuknya.

Di dalamnya, ada banyak warung Soto Kudus. Kanan kiri semuanya warung Soto Kudus. Tidak ada warung yang baru. Semuanya sudah bertahun-tahun jual Soto Kudus di sini.

 

 


Kami masuk warung Soto Kudus yang bernama Bu Ramidjan. Semua warung bentuknya sama. Di depan ada kounternya dan di depannya ada rumpah-rumpah atau jodohnya Soto Kudus. Pemasak Soto menghadapi tamu dan membuat Soto sambil dengar pesan rumpah apa yang dimasukin ke Soto.

 

Pada waktu pesan, saya ditanya oleh pemasak. “Mau ayam atau kerbau?” Eeh, bukankah Soto Kudus adalah stotoayam, bukan? Kerbau? Ternyata, soto di Kudus umumnya pakai kerbau akalu aslinya. Maka saya pesan kerbau. Nasi Soto Kerbau Kudus. kalau tidak salah, Coto Makassar juga awalnya masakan daging dan joroan kerbau.

 

Takutnya daging kerbau yang keras. Ternyata, itu tidak keras, malah lunak dan enak. Nasi Soto Kerbau Kudus ini luar biasa enaknya. Saya belum pernah makan Soto yang begitu enak selama hampir 30 tahun pergaulan dengan Indonesia. Hanya untuk makan ini saja pun, saya ingin datang ke Kudus.
Aawalnya, ditanya “Mau Soto atau PIndan?”, lalu “Mau ayam atau kerbau?” ditanya lagi. Sopir saya yang mengantar saya ke sini pilih nasi pindan kerbau, seperti foto dibawah ini.
Mungkin, kiranya tidak ada Soto Kudus yang pakai daging kerbau di Jakarta. Mungkin jarang ada Warung Soto yang bersedia pindan juga.
Di samping warung ini, ada warung bernama Pak Ramidjan. Di BU Ramidjan, Bapak yang tua jadi pemasak, sedangkan di Pak Ramidjan oleh Ibu yang tua. Bagaimana hubungan ini antara Bu Ramidjan dan Pak Ramidjan? Bapak pemasak hanya senyum-senyum saja dan akhirnya belum bisa dapat jawaban yang pasti.
1 7 8 9 10