Hebat dan Biasa

Kampanye Pemilihan Presiden RI mulai pada tanggal 4 Juni 2014. Dua pasangan calon presiden dan wakil presiden akan bertanding untuk menuju kursi RI-1.

Visi dan misi kedua pasangan umumnya tidak jauh berbeda. Dari segi kacamata orang asing, itu sudah terasa aman. Artinya, Indonesia tidak mungkin berubah arahan kebijakan dan strategi pembangunan yang jauh berbeda daripada apa yang sedang dilakukan oleh Presiden SBY.

Maka, tentu saja perdebatan tentang suatu kebijakan antara kedua pasangan tidak muncul. Satu yang mengangkat suatu issu kemiskinan, yang lain juga ikut. Seperti pemilihan presiden sebelumnya, syukur atau tidak, belum terlihat perbedaan pendapat yang jelas tentang kebijakan pembangunan antara kedua pihak.

Dengan demikian, seperti pemilihan presiden yang lalu, rakyat memilih Presiden dengan suatu feeling, imej dan perasaannya. Ini sudah ditangkapi oleh kedua pasangan dengan imaj yang sangat berbeda.

Pasangan Prabowo-Hatta berusaha memperlihatkan imeji kepemimpinan yang hebat dan kuat terhadap rakyat. Sambil memanfaatkan pemimpin yang bersejarah atau tempat bersejarah, mereka menyampaikan kepemimpinan Indonesia adalah seperti Bung Karno, dan Pak Harto. Pemimpin hebatlah yang dapat melindungi dan memelihara rakyat secara saksama.

Sedangkan, pasangan Jokowi-Kalla berusaha memperlihatkan imeji orang biasa yang sederhana dan merakyat. Sambil memanfaatkan pergaulan rakyat kecil dan pakaian/kendaraan sederhana, mereka menyampaikan kepemimpinan Indonesia bukan lagi orang khusus tetapi orang biasa yang merasakan dan memahami betul tentang rakyat. Bukan pemimpin yang mengatur, tetapi rakyat juga harus menyadari peranan masing-masing. Ini imeji yang mereka sampaikan.

Di sini terinspirasi dua kata. Hebat dan Biasa. Pemilihan Presiden kali ini adalah pemilihan kepemimpinan hebat atau kepemimpinan biasa. Dengan kata lain, buat Republik Indonesia yang telah demokratisasi, gaya kepemimpinan mana yang sesuai dengan zaman ini, yang hebat atau yang biasa?

Ada pertanyaan. Apakah Presiden merupakan penguasa atau pekerja?

Umumnya politisi berusaha mendapat kekuasaan. Kekuasaan berdasar dari kehebatan sebagai bos kelompok orang politik. Dengan kekuasaan ini, RI-1 seolah-olah bisa melakukan apa saja. Maka banyak politisi ingin menjadi RI-1. Atau, banyak politisi ingin menempel pada politisi calon presiden yang kuat untuk mendapat suatu imbalan terhadap dukungannya. Ketidategasan beberapa Parpol dalam penentuan dukungan terhadap calon presiden dapat terbaca dalam konteks tersebut.

Sedangkan, Presiden harus bekerja untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh rakyat. Ini sama juga dengan kepala daerah atau kepala desa, hanya berbeda luas wilayahnya. Kalau Presiden bekerja, ini memaksakan bawahannya juga harus bekerja. Tidak bisa lagi hanya menunggu laporan dari bawah. Presiden yang bekerja tidak ada waktu untuk memperkaya diri karena kerja terus. Bawahannya juga tidak sempat untuk memperkaya diri karena kerja terus. Kadang-kadang orang top yang bekerja keras tidak disenangi oleh bawahannya.

Pemilihan Presiden kali ini tidak menimbulkan perbedaan yang tajam di dalam visi dan misi, atau arahan kebijakan pembangunan. Namun, sangat berbeda tentang gaya kepemimpinan yang mempengaruhi cara kerja bawahannya. Politisi elit sangat kuatir jika orang yang tidak memahami tata cara dan budaya perlilaku mereka menjadi atasan. Mungkin sebagian elit politik dan kalangan terhormat sudah ketahuan ancaman ini. Untuk melindungi budaya elit mereka, mereka berusaha menjatuhkan orang biasa dengan berbagai caranya.

Kalangan terhormat ini bukan hanya elit politik, tetapi juga bintang film/TV yang selalu dilindungi oleh politisi, pejabat dan pengawai pemerintah, tokoh masyarakat yang menganggap dihormati oleh rakyat. Orang-orang hebat mulai takut ditekankan oleh orang-orang biasa.

Bila Jokowi-Kalla menang, ini bukan kemenangan Parpol yang mendukung Jokowi-Kalla. Mereka elit politik juga akan menghadapi ancaman yang sama. Apakah elit politik dapat berubah diri atau tidak?

Ini adalah suatu fenomena yang sangat menarik dalam proses pengembangan ekonomi sosial Indonesia. Dari hebat ke biasa, dari raja ke manajer, dari peguasa ke pekerja.

Meskipun Prabowo-Hatta menang, arus besar ini sulit berhenti kecuali penguasa memakai kekuasaannya secara penuh untuk melindungi budaya elit politik yang tradisional.

Sangat menarik Indonesia yang sedang berubah.