[Indonesia Campur] Dari K dan Harapan untuk Kakao Sulawesi (1)

Mulai tanggal 26 Januari 2021, suatu minuman coklat “Sitrus Cacao” mulai dijual di toko Seven-Eleven di Tokyo, Saitama, Chiba, dan Kanagawa. Minuman coklat ini dibuat dari kakao Sulawesi yang difermentasikan dengan jeruk dan air. Tanpa sari jeruk atau bahan keharuman jeruk, sudah ada rasa dan aroma jeruk dari kakao sendiri. Mungkin kakao yang difermentasi dengan buah-buahan tropis merupakan pertama di dunia. Ini produk dari Dari K Co., Ltd.

Dari K Co., Ltd. adalah suatu perusahaan Jepang yang bermarkas di Kyoto. Dari K berdiri pada tanggal 11 Maret 2011, kebetulan waktu bencana besar Jepang Timur terjadi. Mengapa “Dari K” ? “K” adalah bentuk pulau Sulawesi. Bearti, Dari K mulai dari pulau Sulawesi.

Dari K memproduksi dan menjual kue coklat high-quality di Jepang. Bahan coklatnya semua berasal dari Sulawesi. Sejak dulu Dari K bergaul suatu kelompok petani kakao di Polewali, Sulawesi Barat, untuk mendapat bahan kakao bermutu, yaitu kakao yang difermentasikan dengan baik.

Ini cerita saya sebelum ketemu Dari K.

Indonesia merupakan negara penghasil/pengekspor biji kakao ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Namun, kakao dari Indonesia sulit dinilai mutu yang bagus karena sebagian besar biji kakaonya tidak difermentasikan. Maka, jarang ada chocolatier yang pakai kakao Indonesia sebagai bahan kue coklat di dunia, sebelum Dari K muncul.

Waktu saya bertugas di Sulawesi sebagai tenaga ahli JICA (penasihat kebijakan pembangunan daerah se-Sulawesi) pada 1996-2001 dan 2008-2010, salah satu isu utama adalah masalah kakao. Kita sering berdiskusi bersama pejabat Pemda, pengusaha, dan petani kakao, kesimpulannya tetap sama, yaitu untuk meningkatkan mutu biji kakao dengan fermentasi yang baik, sejak 1996.

Momennya selalu hilang. Misalnya waktu krisis moneter (1997-1998). Karena harga pembelian kakao dari petani tiba-tiba naik karena perubahan kurs USD/IDR (rupiah turun dari 1 USD = 2000 IDR ke 15,000 IDR, misalnya), maka petani kakao gala-gala menjadi kaya dengan kenaikan penerimaan rupiah, tanpa berusaha apa pun. Maka, petani tidak bermotivasi melakukan fermentasi kakao karena jual biji kakao tanpa fermentasi saja dapat uang lebih banyak. Memang hampir tidak ada perbedaan harga antara kakao fermentasi dan kakao non-fermentasi sejak dulu.

Harga kakao sebenarnya tidak ditentukan di Sulawesi, tetapi di New York atau London. Harga kakao bergerak secara fluktuasi karena itu jadi sasaran spekulasi di pasar uang dunia. Apalagi, petani kakao Sulawesi dulu umumnya tidak tahu kakao jadi bahan untuk apa. Padahal, bagian petani yang bisa dapat hanya 1-2 % saja dari nilai kue coklat. Sebagian besarnya diterima oleh perusahaan coklat dan chocolatier.

Banyak kalangan dulu percaya bahwa kakao Sulawesi tidaj cocok sebagai bahan kue coklat yang bagus. Memang itu betul kalau tanpa fermentasi. Belum muncul kepastian pada waktu itu tentang apakah kakao Sulawesi juga bisa diterima sebagai bahan kakao yang bagus jika difermentasikan.

Pada tahun 2009, saya mengungjungi suatu toko coklat di dekat stasiun Tokyo dan ada kue coklat yang bahannya dari Sulawesi. Saya yakin ini bisa menjadi bukti bahwa kakao Sulawesi pun bisa menjadi kue coklat yang bagus. Setelah membeli dua lusin (24 biji) kue coklat “Sulawesi”, saya membawanya ke Makassar lalu simpang di kurkas sambil mencari kesempatan untuk mepamerkan coklat tersebut.

Kebetulan ada Lokakarya Kakao Sulawesi yang dihadiri Gubernur Sulsel, Sulbar, Sulteng dan Sultra. Saya hadir di acara tersebut sebagai tenaga ahli JICA, dan minta presentasi selama 10 menit. Tentu saja saya membawa kue coklat “Sulawesi” dari Jepang. Sambil membagikan kue coklat kepada para Gubernur dan pejabat-pejabatnya, saya menekankan bahwa inilah bukti bahwa kakao Sulawesi pasti bisa menjadi kue coklat yang bagus.

Lalu, siapa yang menjadi pelopornya? Saya merasa perlu ada semacam “Don Quijote” atau orang gila yang mengambil resiko, karena belum terlihat ada yang melawan struktur harga kakao yang ditentukan di dunia jauh. Saya merasa presentasi saya bisa menjadi sia-sia. Terlalu berat perlawanan tersebut. Mungkin sulit mencari “Don Quijote”.

Setelah selesai tugas di Makassar dan pulang ke Jepang, terdengar kabar angin bahwa ada yang mau membuat kue coklat di Jepang dengan kakao Sulawesi. Tidak mungkin. Tapi itukah “Don Quijote” yang saya membayangkan?

Benar. Itulah Dari K, didirikan oleh Mr. Keiichi Yoshino. Benar, itu “Don Quijote”.

Saya memutuskan untuk bertaruh Dari K dan Mr. Yoshino tentang nasib kakao Sulawesi masa depan. Saya ingin sekali segera ketemu Mr. Yoshino. Akhirnya berhasil ketemu di Kyoto pada tahun 2012 dan minta saya jadi penasihat Dari K khusus untuk urusan Sulawesi tanpa dibayar. Ternyata, Mr. Yoshino sudah membaca essei saya tentang masalah kakao Sulawesi yang ditulis pada tahun 2002.

Inilah pemulaian saya yang melibatkan diri bersama Dari K untuk merubah keadaan kakao Sulawesi.

(Bersambung)

One comment

コメントを残す

メールアドレスが公開されることはありません。 * が付いている欄は必須項目です

このサイトはスパムを低減するために Akismet を使っています。コメントデータの処理方法の詳細はこちらをご覧ください