Kami Membantu Studi Banding dari Indonesia ke Jepang

Kepada Bapak/Ibu di perusahaan, pemerintah daerah, perguruan tinggi dll, saya membantu studi banding Bapak/Ibu dari Indonesia ke Jepang !

Kami berkonsultasi dengan Bapak/Ibu tentang tujuan kunjungan (terutama kota/desa mana di Jepang), jadwal, transportasi, tempat menginap, perdampingan, penerjemah dan macam-macam terkaitan dengan kunjungan ke Jepang.

Kami bisa menerima “perencanaan, kontak dengan pihak Jepang, perdampingan sekaligus penerjemah pada rombongan di Jepang, dan diskusi selama di Jepang” sebagai satu paket konsultasi.

Kami bisa mencari dan membawa rombongan Bapak/Ibu ke kota lokal di Jepang yang cocok sebagai tujuan kunjungan.

Jika ada yang berminat, silahkan kontak saya lewat message atau email.

 

Kemerdekaan Ada di dalam Diri Kita Sendiri

DIRGAHAYU INDONESIA Ke-70. Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia.

Pada 70 tahun yang lalu, atas nama Bung Soekarno dan Bung Hatta, kemerdekaan Republik Indonesia dinyatakan. Kemerdekaan dari penjajahan militer Jepang.

Namun, Republik Indonesia harus mengalami perjuangan keras untuk terus mewujudkan kemerdekaan riil selama 4 tahun lebih dengan perang dengan pihak Sekutu setelah pernyataan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Saya menghormati perjuangan tersebut dan menghargai masyarakat Indonesia yang mewujudkan kemerdekaan Republik Indonesia dengan kekuatan sendiri. Benar, kebangaan masyarakat Indonesia terhadap Republik Indonesia begitu kuat.

70 tahun berlalu. Republik Indonesia sudah diakui sebagai negara terbesar di Asia Tenggara dan pemimpin ASEAN. Republik Indonesia berhasil berubah dirinya ke negara demokrasi dari rejim Orde Baru.

Bahkan, Republik Indonesia tetap menjaga Bhineka Tunggal Ika atau persatuan di dalam keanekaragaman. Ada kehormatan terhadap perbedaan dan keanekaragaman. Mestinya Indonesia menjadi contoh untuk dunia yang menghadapi berbagai konflik antara perbedaan dan sulit hidup bersama antara berbagai suku, agama, dan perbedaan.

Tentu saja, ini juga untuk Jepang yang negara satu suku bangsa dan belum biasa menghadapi orang asing yang berbeda dengan masyarakat Jepang. Jepang harus belajar Bhineka Tunggal Ika dari Indonesia untuk mewujudkan perdamaian di Jepang, Asia dan dimana-mana di dunia.

Dengan mengingat Perang Dunia Dua, meskipun belum lahir tapi dengan belajar dari berbagai pihak, masyarakat Jepang masih tetap berusaha ingat apa yang terjadi di dalam Perang Dunia Dua. Kami tidak bisa membenarkan apa pun yang terjadi pada waktu itu, termasuk penjajahan militer Jepang di wilayah Asia dan penjatuhan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki atau pemboman sembarangan oleh Sekutu terhadap berbagai kota-kota di Jepang termasuk Tokyo. Kami menghadapi suara-suara musibah perang atau keluarganya.

Siapa yang masih menginginkan ada perang? Saya yakin dan ingin yakin satu orang pun tidak ada yang ingin perang. Mungkin industri alat-alat senjata masih mau ada kesempatan untuk menggunakan produk mereka. Semoga produk ini tidak perlu diproduksi lagi.

Dalam peringatan kemerdekaan 70 tahun Republik Indonesia ini, kita coba retropeksi arti kemerdekaan. Kemerdekaan merupakan kebebasan diri dari penjajah. Berdiri sendiri. Namun, ini tidak berarti semua dilakukan dengan sendiri. Tidak berarti tidak bergaul dengan pihak luar. Kemerdekaan bukan putus hubungan dengan luar. Bukan bersikap eksklusif.

 

**************************

Kalangan masyarakat Jepang saat ini mulai merasa agak dingin dari Republik Indonesia. Misalnya, pengambilan visa untuk orang asing diperketat maka banyak yang putus asa berbisnis di Indonesia. Ada juga teman saya orang Jepang yang dikunjungi oleh beberapa oknum ‘imigrasi’ ke apartemennya pada tengah malam, paksa dibangungkan, lalu mereka periksa pasopor dan visa dia. Tentu saja dia memiliki izin tinggal secara resmi dan merasa was-was. Rajin sekali kerja pengawai jika oknum benar-benar pengawai ‘imigrasi’.

Cerita seperti ini sudah menyebar di kalangan masyarakat Jepang dan banyak pengusaha agak takut berbisnis di Indonesia. Imeji Indonesia saat ini memburuk. Sayang sekali.

Saya tidak mau mengatakan bahwa contoh seperti ini merupakan fenomena ‘kemerdekaan’ Indonesia. Sering dengar bahwa orang asing datang ke Indonesia untuk menguasai ekonomi dan menjajah lagi. Saya merasa sedih. Perasaan zaman kolonial masih kental. Tidak ada pengusaha Jepang yang menjajah kembali Indonesia, hanya mereka mau berbisnis di Indonesia.

Mengapa kami selalu dicuriga? Saya dengar sebagian besar orang Jepang di Indonesia berusaha mengikuti hukum dan aturan Republik Indonesia dan tidak mau lupa bayar pajak yang diwajibkan. Apalagi, jika diminta uang dari pihak oknum, mereka sering bayarnya karena takut dihukum atau dideportasi ke luar Indonesia. Kenapa yang jujur menjadi sasaran oleh oknum? Atau karena jujur jadi sasaran?

Ada yang bilang bahwa Republik Indonesia hanya butuh uang dan dana dari luar tapi tidak perlu orang asing. Presiden Jokowi mempromosi dan investasi dari luar negeri. Tetapi, pengambilan visa untuk orang asing diperketat dan makin uncul aturan yang membatasi aktivitas orang asing di Indonesia. Turis orang asing saja yang diwelcome oleh Indonesia, bukan?

Saya merasa ada suatu keinginan eksklusif Indonesia terhadap pihak luar. Semua orang tahu bahwa manusia siapa pun atau negara mana pun tidak mungkin hidup sendiri saja. Mengapa masih kental rasa curiga terhadap pihak luar oleh Indonesia? Tidak mungkin kami menjajah Indonesia lagi. Pengusaha Jepang diijinkan berbisnis di Indonesia. Maka mereka selalu bersyukur Tuhan dan berkarya untuk win-win antara Indonesia dan Jepang. Tetapi masih tetap dicurigai. Memang, pasti ada juga orang asing yang jahat, seperti ada orang Indonesia yang jahat juga.

Apakah orang asing termasuk kami semuanya orang jahat? Mengapa masih takut terhadap orang asing? Warga asing yang menaati hukum dan aturan Indonesia pun sulit merasa hidup aman di Indonesia jika was-was terhadap kemungkinan ada oknum imigrasi tiba-tiba datang pada tengah malam.

 

**************************

Kemerdekaan negara mestinya terdiri dari kemerdekaan masyarakat pribadi masing-masing. Kemerdekaan pribadi masing-masing berdasar dari kedaulatan, kemandirian, dan kepercayaan diri masing-masing. Ini diciptakan oleh berpikir dan menentukan sendiri dengan berbagai pertimbangan. Pertimbangan berdasar dari pembacaan buku/tulisan, diskusi dengan orang lain, atau pengalaman lain-lain oleh sendiri.

Pribadi yang kokoh. Pribadi yang bertanggungjawab sendiri terhadap apa yang dia lakukan. Dan, pribadi yang menghormati dan respek keberadaan, perbedaan, dan kehidupan orang lain.

Republik Indonesia sudah menikmati kemerdekaan selama 70 tahun. Untuk memperkuat kemerdekaan tersebut, kemerdekaan kita masing-masing juga perlu diperkuat. Kemerdekaan ada di dalam kita sendiri. Ini bukan untuk masyarakat Indonesia saja, tetapi juga untuk masyarakat Jepang dan masyarakat dimana saja senagai seorang manusia yang hidup bersama.

DIRGAHAYU INDONESIA ke-70 ! Semoga Indonesia maju terus dan persahabatan kita berkembang terus !

 

[Kue Jepang] Komaru Furai dari Kyoto

Hari ini saya mengunjungi suatu perusahaan kecil, Kowa Kogyo, di Osaka, Jepang. Perusahaan Kowa Kogyo ini membuat mesin pembuatan kue, termasuk extruder yang bubuk apa pun menjadi kue yang kayaknya kerupuk.

Di perusahaan ini, saya menemu suatu kue Jepang yang bernama “Komaru Furai”, buatan Miyata Sweets Production Company in Kyoto. Miyata Company pakai mesin extruder buatan Kowa Kogyo.

2015-07-31 15.03.40

“Komaru Furai”. Enak sekali.

“Komaru Furai” ini sepertinya kerupuk lunak dengan kacang. Rasanya gurih dengan mentega dan kacangnya sedikit asin. Kombinasi kedua rasa ini sangat cocok.

Menurut Kowa Kogyo, tamu-tamu orang Indonesia suka makan “Komaru Furai” ini dan sulit berhenti makan ini. Maksudnya, mereka makan terus kue snak ini.

 

Saya yakin “Komaru Furai” ini pasti memuaskan lidah orang Indonesia.

Sayang, kue ini tidak dijual di toko-toko suvenir di Kyoto dan Osaka, tapi dijual di supermarket lokal biasa. Kue ini punya sejarah lama namun masyarakat Jepang mulai lupa keberadaannya.

Jika ada yang mau coba, silahkan kontak Miyata Company yang berikut ini.

 

Miyata Sweets Production Company: 16 Uzumasa-Morigamae cho, Ukyo-ku, Kyoto. Phone: +81-75-861-0924

 

Untuk Bekerja di Indonesia, TKA Harus S-1?

Dalam kalangan pengusaha Jepang di Indonesia, salah satu masalah besar saat ini adalah masalah visa kerja untuk orang asing. Menurutnya, latar belakang pendidikan orang asing harus di atas S-1 jika mau dapat visa kerja di Indonesia.

Apakah ini sudah ditentukan secara resmi oleh pemerintah lewat suatu peraturan? Atau aturan intern di dalam Kementerian Tenaga Kerja?

Saya belum menemu peraturan resmi yang tertulis tentang hal ini. Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 tentang Tata Cara Penggunaan Tenaga Kerja Asing, ada persyaratan Tenaga Kerja Asing (TKA) di pasal 26. Dalam (1), sebut bahwa TKA yang dipekerjakan oleh pemberi kerja wajib memunuhi persyaratan sebagai berikut: a. memiliki pendidikan yang sesuai dengan syarat jabatan yang akan diduduki oleh TKA; b. memiliki kompetensi yang dibuktikan sertifikat kompetensi atau pengalaman kerja sesuai dengan jabatan yang akan diduduki oleh TKA paling kurang 5 (lima) tahun; c. bersedia membuat pernyataan untuk mengalihkan keahliannya kepada tenaga kerja Indonesia pendamping; dan d. dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.

Dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi ini, belum terlihat persyaratan yang harus diatas S-1.

Mengapa ini dianggap masalah di dalam kalangan pengusaha Jepang? Karena pihak Jepang tidak bisa memanfaatkan teknisi orang Jepang lulusan SMA/SMK sebagai pembimbing terhadap tenaga kerja Indonesia, jika harus diatas S-1.

Di Jepang, umumnya, teknisi andalan di suatu perusahaan berasal dari SMA/SMK dan merekalah yang berperan untuk meningkatkan teknologinya dari lapangan. Gerakan Kaizen (perbaikan secara berkelanjutan) umumnya diperankan oleh mereka. Mengapa? Karena mereka yang paling paham kondisi dan masalah teknis sehari-hari di pabrik.

Sedangkan, di Jepang, lulusan S-1 umumnya bekerja sebagai “white-color”, kerja kantor. Lulusan S-1 percaya para teknisi yang menguasai urusan teknis dan pemecahan masalah. Para teknisi lulusan SMA/SMK disebut “blue-color” di Jepang. HUbungan saling percaya antara “white-color” dan “blue-color” inilah yang salah satu kiat pengembangan usaha terutama industri pengolahan di Jepang selama ini.

Dengan demikian, di perusahaan Jepang, “white-color” sulit memberi bimbingan teknis kepada worker. Harus dibimbing oleh teknisi berasal “blue-color”.

Selain ini, di Jepang, ada banyak mantan teknisi yang sudah pensiun ingin sekali berkontribusi untuk pengembangan industri di Indonesia. Sebagian besar mereka pernah bekerja di Indonesia dan tidak sedikitnya sangat mencintai Indonesia. Mereka tidak bermaksud mengambil kesempatan kerja dari orang Indonesia, melainkan membantu meninngkatkan SDM teknisi orang Indonesia.

Mereka tidak perlu mencari uang besar-besaran karena sudah menerima pensiun setiap bulan. Keinginan mereka bukan cari uang. Benar-benar murni mereka ingin membimbing kepada tenaga kerja Indonesia untuk meningkatkan teknik dan teknologi Indonesia di pabrik. Menurut suatu perusahaan HRD, ada daftar mantan teknisi sekitar ratusan orang yang siap datang ke Indonesia untuk pengembangan industri Indonesia.

Sayang, sebagian besar mereka adalah lulusan SMA/SNK, bukan lulusan S-1.

Dimana ada orang asing selain Jepang yang ingin bekerja bukan untuk negara aslinya sendiri tetapi untuk Indonesia? Mereka adalah seperti pelajurit bekas tentara Jepang yang tidak pulang ke Jepang dan berjuang bersama orang Indonesia untuk mengalahkan tentara Sekutu yang ingin menguasai Indonesia lagi pada waktu perang kemerdekaan pada tahun 1945-1949.

Kemajuan Indonesia adalah faktor penting untuk Jepang juga. Perusahaan sepeda motor dan otomotif Jepang sudah menentukan Indoensia sebagai basis produksi dan ekspor produknya di dunia dan tidak lari ke luar Indonesia. Lewat pengembangan industri tersebut, Jepang secara langsung atau tidak langsung membutuhkan berkontribusi untuk industrialisasi Indonesia yang mantap dan kuat.

Ada yang ingin berkontribusi untuk Indonesia tanpa mengambil kesempatan kerja dan tanpa mencari uang. namun, mereka tidak boleh memberi bimbingan teknis kepada tenaga kerja Indonesia karena bukan diatas S-1. Jika ini benar, apakah ini keputusan terbaik untuk pengembangan SDM teknisi industri di Indonesia?

Pemerintahan Jokowi memiliki pemikiran praktis, saya percaya. Semoga pemerintah Indonesia berpikir secara praktis dan bersedia memanfaatkan teknisi-teknisi orang Jepang sebagai pembimbing untuk mencetak SDM yang andal di bidang perindustrian.

Saya mengharapkan tanggapan dan opini pembaca. Terima kasih.

 

New Email Address

Bersama ini saya memberitahukan bahwa saya habis kontrak dengan JAC Business Center sebagai Senior Associate pada tanggal 3 September 2014.

Saat ini saya menjadi benar-benar konsultan, fasilitator, dan katalist independen.

Rencananya, saya akan membentuk suatu perusahaan konsultan kecil di Jepang dan berlanjut kegiatan di Indonesia, Jepang dan tempat lainnya.

Dengan demikian, saya mulai pakai alamat email saya yang baru, seperti yang berikut:

matsui@matsui-glocal.com

Saya pakai nama “Matsui Glocal” di dalam kegiatan saya. Nanti nama ini akan digunakan untuk perusahaan konsultan kecil saya.

Saya mengharapkan teman-teman tetap terus kontak dan berhubungan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan bernilai bersama-sama buat generasi penerus kita.

Inikah hasil demokratisasi Indonesia?

Mohon maaf jika ada yang merasa tersinggung. Ini sekedar ngomongan orang asing yang belum hafal betul tentang Indonesia.

Apakah ada input baru yang sangat bagus dari pihak Prabowo-Hatta yang menaikkan dukungannya secara signifikan?

Sebaliknya, apakah ada kesalahan fatal yang menurunkan dukungan terhadap Jokowi-JK di dalam kampanye Pilpres kali ini?

Sayang sekali, belum terlihat pembahasan serius tentang masalah-masalah dan kebijakan krusial yang dihadapi oleh Indonesia saat ini dan masa depan. Kayaknya jauh lebih sibuk melakukan kompetisi manupilasi informasi dan menjatuhkan citra orang satu sama lain. Banyak orang bergerak hanya berdasar rasa sakit hati.

Inikah hasil demokratisasi Indonesia? Mohon lebih serius berpikir dan beraksi untuk masa depan yang baik untuk anak dan cucu anda masyarakat Indonesia.

Merasa banggakah jika menang dengan kampanye hitam?

Banyak pihak merasa bosan dan benci terhadap kampanye hitam dan negatif yang sedang ramai di dalam Pilpres kali ini.

Seolah-olah orang Indonesia sangat senang menjelekkan orang dan mencari kesalahan orang, daripada membahas masa depan Indonesia dan memikirkan ide-ide baru yang akan terwujud untuk zaman anak dan cucu kita. Sayang sekali !

Pernah saya bertanya lewat Twitter. Apakah pemenangnya merasa bangga jika menang karena kampanye hitam dan negatif?

Mengapa saya bertanya? Karena ada yang mengatakan bahwa harus menang dengan cara apa pun. Ini karena harus ada pengembaliannya terhadap banyak investasi dana yang telah ditanam untuk Pilpres.

Saya sering dengar bahwa ajaran agama di Indonesia sangat penting. Apakah ajaran agama memperbolehkan kemenangan dengan cara-cara yang kotor dan yang melukai pihak lain?

Jika ini dibenarkan karena penting untuk mengembalikan dana investasi politik, mereka berdoa apa untuk Tuhan setiap kali? Hanya untuk dirinya sendiri saja?

Saya merasa sedih melihat situasi seperti ini. Dalam kampanye Pilpres kali ini, sulit dengar pikiran dan ide untuk memperbaiki berbagai keadaan saat ini untuk Indonesia masa depan yang lebih baik. Tidak dengar diskusi positif untuk menagatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh Indonesia ini.

Yang adanya saling menjelekkan dan mencari kesalahan saja.

Selainnya, hanya kompetisi imej calon presiden dan wakil presiden saja. Sama sekali tidak produktif. Arahan visi dan misi kedua kubu sebenarnya tidak jauh berbeda, meskipun pendekatan dan caranya sangat berbeda.

Masih terlihat intimidasi dan pemaksaan pemilihan calon tertentu oleh atasan atau tokoh masyarakat. Seolah-olah jika tidak ikut intimidasi dan pemaksaan tersebut, dia akan dapat sanksi atau dieportasi dari komunitasnya. Apakah Indonesia sudah menjadi negara demokratis atau tidak?

Atasan atau tokoh masyarakat tersebut tidak mau membeli kesempatan kepada bawahannya untuk berpikir sendiri. Hanya maunya loyalitas saja. Ini namanya dictatorship atau authoritarianism. Masih ada kubu calon presiden dan wakil presiden yang memakai cara-cara ini untuk memaksakan pemilihannya.

Negara demokratis tidak mungkin terwujud tanpa masyarakat yang mampu berpikir sendiri dengan pertanggungjwabnya sendiri. Namun, elit politik dan kalangan atas belum siap menghadapi masyarakat yang berpikir sendiri. Masih mengharapkan masyarakat yang jujur (artinya hanya ikut atasan).

Kapan Indonesia menjadi negara demokratis yang benar?

Sekali lagi saya bertanya. Apakah pemenangnya merasa bangga jika menang karena kampanye hitam dan negatif? Karena menjelekkan pihak lain dengan fitnah dan kebohongan?

Jika jawabannya ya, kesedihan saya tidak akan mungkin hilang dari hati saya. Dan saya benci sama saya sendiri karena belum bisa benci terhadap Indonesia yang demikian.

Keputusan Keberatan Operasi Kembali PLTN di Jepang

Pada tanggal 21 Mei 2014, Pengadilan Daerah Fukui, Jepang menyatakan keberatan terhadap operasi kembali Pembangkitan Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Oh-i No. 3 dan No. 4. Barusan ringkasan keputusan ini diterjemahkan oleh Bahasa Inggris.

Dalam dokumen ini, ada kalimat yang perlu diperhatikan, seperti yang dibawah ini:

“… Furthermore, the Defendant claims that the operation of the nuclear power plant is excellent from an environmental perspective because of the contribution to reducing CO2 emissions. However, the environmental contamination incurred if one serious accident occurs at a nuclear power plant would be horrific and it would be seriously ill-founded to use environmental concerns as the basis for continuing operation of a nuclear power plant, in light of the largest ever pollution and environmental contamination in the history of our country having been caused by the Fukushima nuclear power plant accident.”

Sampai saat ini, semua PLTN di Jepang masih berhenti operasinya dan ekonomi Jepang tetap berjalan meskipun biaya energinya lebih mahal.

Manusia adalah pelupa. Banyak yang lupa apa yang terjadi di PLTN Fukushima No.1 dan No. 2 pada waktu terjadi bencana, tanggal 11 Maret 2011 dan sesudahnya. TIdak bisa lupa perasaan saya waktu PLTN tersebut meledak. Saya merasa Jepang sudah habis dan kiamat. Syukur, kita masih hidup dan berkarya.

Sekitar 150 ribu orang masih mengungsi dari kampung halamannya dan bekas PLTN masih terus mencemar air tanah dan lahan sekitarnya meskipun banyak pihak berusaha untuk menangani ini.

Ringkasan keputusan Pengadilan Daerah Fukui dapat di-download dari situs yang berikut.

Outline of Judgment on Claim for Injunction on
Operation of No. 3 and No. 4 Units at Oh-i Nuclear Power Plant
Fukui District Court, May 21 2014
http://www.greenpeace.de/sites/www.greenpeace.de/files/publications/fukui-akw-urteil-engl-juni2014.pdf

 

Pesta Tokyo di Blok M dihentikan karena pungli

Akhir bulan Mei lalu, sekitar 200.000 orang kumpul dan menikmati suasana Jepang di Blok M, Jakarta Selatan. ‘Little Tokyo Ennichisai Blok M’ terlihat sangat ramai dan penuh kesenangan oleh pengunjung.

Namun, ‘Little Tokyo Ennichisai Blok M’ ini diputuskan terakhir dengan kali ini dan tidak ada lagi. Alasannya: uang pelicin besar yang diminta oleh aparat.

Saya kira reformasi aparatur di DKI Jakarta sedang berjalan dan percaya makin membaik pada saat ini. Ternyata, masalah klasik “pungli” yang pasti tidak enak bagi pihak Indonesia masih hidup. Sangat kaget.

Acara ‘Little Tokyo Ennichisai Blok M’ Dihentikan dan Tidak Akan Ada Lagi

Apakah pernyataan ini oleh panitia pesta Ennichisai ini berlebihan? Apakah mereka bohong? Apakah dianggap orang asing menjelekkan Indonesia dengan ini? Jika dirasakan demikian dan ini bukan fakta, saya mohon maaf sebesar-besarnya.

Pesta ini dikembangkan oleh para sukarelawan tanpa dana dari pemerintah baik Indonesia maupun Jepang hanya untuk mengembangkan hubungan persahabatan antara Indonesia dan Jepang. Hanya itu saja. Bukan untuk menguasai Indonesia oleh Jepang, atau mencari keuntungan sebesar mungkin dari pihak Indonesia oleh pihak Jepang. Iya, tujuannya murni persahabatan.

Namun, upaya peningkatkan persahabatan antara Indonesia dan Jepang dihentikan karena pungli oleh aparat. Saya sangat mengharapkan ini bukan karena pihak aparat Indonesia tidak mau bersahabat dengan pihak Jepang.

Berita sedih. Apakah kami orang asing harus tetap diam jika mengalami hal-hal yang tidak wajar seperti ini karena orang asing yang diperbolehkan berdomisili di Indonesia?  Siapa yang senang menganggu upaya persahabatan antara Indonesia dan Jepang?

Kami tidak mau diam lagi.

1 2